Serma Sumadi Hadiri Doa Sedekah Bumi yang Mengguncang Jiwa, Satukan Camat, Kapolsek, dan Rakyat dalam Satu Napas Kebersyukuran
Indramayu, – Kabut pagi masih menyelimuti Lapangan Bola Blok Winong, Desa Tunggulpayung, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, pada Rabu (14/10/2026). Namun, kehangatan yang terasa bukan berasal dari sinar matahari, melainkan dari aura spiritual yang memancar dari ratusan warga yang berkumpul sejak pukul 07.30 WIB.
Di tengah hamparan hijau lapangan yang biasanya riuh oleh teriakan sepak bola, hari ini suasana berubah menjadi khidmat dan magis. Sebuah acara Doa Bersama dalam rangka Adat Sedekah Bumi digelar dengan penuh kesakralan, dipimpin langsung oleh Ustadz Rosid, dengan kehadiran para pemimpin wilayah yang memberikan bobot istimewa pada ritual syukur tersebut.
Kehadiran Serma Sumadi, perwakilan Danramil 1612/Lelea dari Koramil setempat, menjadi simbol kuat bahwa TNI tidak hanya menjaga keamanan fisik, tetapi juga menghormati dan melindungi nilai-nilai spiritual serta budaya leluhur masyarakat.
Ia berdiri berdampingan dengan Camat Lelea, Atang Suwandi, S.STP., M.Si., beserta stafnya, Kapolsek Lelea yang diwakili Aipda Arif, Kuwu Tunggulpayung Bapak Iis Sugiyanto bersama seluruh pamong desa, Ketua BPD yang diwakili Bapak Darsono, hingga perwakilan Pol PP Kecamatan Lelea, Bapak Sana.
kehadiran Muspika yang lengkap ini menunjukkan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi lokal, melainkan agenda kebersamaan pemerintah dan rakyat untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendekatan religius.
Ustadz Rosid, sebagai pemandu doa, mengalunkan ayat-ayat suci dan permohonan kepada Allah SWT dengan suara yang menyentuh kalbu. Doa-doa dipanjatkan untuk keberkahan hasil panen, keselamatan desa dari segala bentuk bencana, dan kerukunan antarwarga.
Serma Sumadi tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian doa, tangan terangkat tinggi bersimpuh dalam keheningan. Sikap rendah hati seorang prajurit di hadapan Tuhan dan tradisi adat ini mengirimkan pesan mendalam kepada masyarakat: bahwa kekuatan sejati lahir dari ketakwaan dan rasa syukur, bukan semata-mata dari senjata atau kekuasaan.
Bagi warga Desa Tunggulpayung, momen ini adalah oase di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Mereka merasa dihargai karena aparat negara hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk berdoa bersama. Interaksi antara Serma Sumadi, Aipda Arif, dan Bapak Iis Sugiyanto dengan warga menciptakan ikatan emosional yang erat. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak hierarki. Semua melebur menjadi satu umat yang berharap ridho Ilahi. "Ketika pemimpin kita mau berlutut bersama rakyat untuk berdoa, maka desa ini akan selalu dilindungi," ujar salah satu tokoh masyarakat dengan mata berkaca-kaca.
Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan dalam keadaan sangat aman dan kondusif. Tidak ada gangguan sedikit pun, hanya ada aliran energi positif yang menyatukan hati seluruh elemen masyarakat. (Pen)