Tenun Pringgasela Bersinar di Persit Bisa 2, Karya Wastra Sasak yang Menyulap Tradisi Jadi Simbol Elegansi Nusantara

Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat — Di tengah derasnya arus modernisasi, warisan budaya Indonesia terus membuktikan eksistensinya melalui nilai, filosofi, dan keindahan yang tak tergantikan oleh zaman. Salah satu kekayaan tersebut hadir dalam sosok Tenun Pringgasela, wastra khas masyarakat Suku Sasak dari Desa Pringgasela, Lombok Timur, yang hingga kini tetap lestari dan menjadi simbol identitas budaya daerah. Tenun Pringgasela dikenal luas berkat motif garisnya yang sederhana namun elegan. Di balik tampilannya yang minimalis, tersimpan nilai budaya yang begitu kuat. Berbeda dengan banyak kain tradisional lain, tenun ini tidak menggunakan simbol makhluk hidup dalam motifnya. Hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Keunikan tersebut menjadikan setiap lembar kain bukan sekadar produk tekstil, tetapi representasi filosofi kehidupan masyarakat Sasak. Salah satu motif paling terkenal adalah Sabok Beranak, yang menggambarkan siklus kehidupan manusia—lahir, tumbuh, menjalani kehidupan, hingga kembali. Melalui motif ini, Tenun Pringgasela hadir sebagai media yang menarasikan makna hidup, keseimbangan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Perjalanan panjang tenun ini juga menunjukkan kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan akar tradisi. Interaksi perdagangan pada masa lampau dengan masyarakat Makassar dan Bugis turut memberikan pengaruh pada ragam motif serta pengayaan estetika visual. Meski demikian, identitas utama Tenun Pringgasela tetap terjaga kuat. Keistimewaan lain yang membuat Tenun Pringgasela begitu bernilai terletak pada proses pembuatannya. Hingga saat ini, para pengrajin masih mempertahankan teknik tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau gedongan. Proses ini membutuhkan keterampilan tinggi, konsentrasi, kesabaran, dan ketelitian luar biasa. Material yang digunakan pun berasal dari alam. Benang dibuat dari kapas alami, sementara pewarnaannya memanfaatkan bahan-bahan organik seperti daun ketapang, daun tarum, dan tunjung. Hasilnya adalah warna-warna lembut yang khas, alami, sekaligus ramah lingkungan—sejalan dengan tren gaya hidup berkelanjutan yang kini semakin diminati. Karena prosesnya yang detail dan tradisional, satu lembar Tenun Pringgasela dapat memerlukan waktu pengerjaan antara satu hingga tiga bulan. Hal inilah yang menjadikan setiap kain memiliki karakter unik, nilai artistik tinggi, serta eksklusivitas yang tidak dapat ditemukan pada produk massal. Dalam tradisi masyarakat Sasak, setiap motif juga memiliki fungsi khusus. Motif Pucuk Rebong yang terinspirasi dari tunas bambu melambangkan pertumbuhan dan harapan, umumnya dikenakan pria dalam upacara adat. Motif Sundawa dengan perpaduan garis dan bentuk belah ketupat sering digunakan dalam momen sakral seperti pernikahan. Sementara itu, Motif Sari Menanti yang memiliki pola garis lurus dengan aksen beras patah kini semakin diminati generasi muda karena tampilannya sederhana namun modern. Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya ke panggung yang lebih luas, Tenun Pringgasela turut dihadirkan dalam rangka mengikuti ajang Persit Bisa 2 yang diselenggarakan di Balai Kartini pada 7–9 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan produk unggulan dan karya kreatif kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi wastra Nusantara dalam ruang publik nasional. Di balik keberlanjutan tradisi ini, hadir peran penting para pelestari budaya. Salah satunya adalah Ny. Nukman, pelaku UMKM Tenun Pringgasela sekaligus anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana. Melalui dedikasinya, ia tidak hanya memproduksi kain, tetapi juga menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Tenun Pringgasela bukan hanya warisan masa lalu, melainkan identitas yang terus bernafas dan berkembang. Ia menjadi simbol kebanggaan, penghubung antar generasi, serta bukti bahwa budaya lokal Indonesia memiliki daya tahan dan daya saing yang kuat di tengah dunia modern. Bangga menggunakan identitas Nusantara. Tenun Pringgasela, Wastra Nusantara.