Dari Anyaman Desa ke Sorotan Dunia, Harmoni Tas Ketak Lombok Bersinar di Persit Bisa 2 Balai Kartini

Lombok, Nusa Tenggara Barat — Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak semua warisan budaya tergerus oleh zaman. Sebagian justru menemukan cara baru untuk tampil lebih relevan, lebih bernilai, dan lebih memikat. Inilah yang tergambar dalam karya “Harmoni Tas Ketak Lombok”, sebuah inovasi kriya dari Galeri Wira Bhakti 162 yang berhasil memadukan kekuatan tradisi dengan sentuhan estetika modern. Tas ketak bukanlah nama baru dalam khazanah kerajinan Nusantara. Berasal dari tanaman ketak—sejenis tanaman merambat yang tumbuh alami di Lombok—produk ini telah lama dikenal hingga ke pasar internasional, sejajar dengan tenun dan mutiara sebagai identitas kebanggaan daerah. Proses pembuatannya yang sepenuhnya manual menghadirkan tekstur khas, warna cokelat alami, serta karakter autentik yang tak dapat ditiru oleh produk massal. Namun, Harmoni Tas Ketak Lombok menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar tradisi. Melalui pendekatan desain yang inovatif, tas ini tampil dengan aksen pilinan tali ramah lingkungan yang memberikan dimensi visual baru—segar, dinamis, dan tetap berpijak pada akar budaya. Perpaduan warna dan bentuk yang cermat menjadikannya tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memancarkan kesan chic dan elegan, selaras dengan selera gaya hidup masa kini. Sentuhan eksklusivitas semakin diperkuat dengan kehadiran Mutiara Mabe—mutiara setengah lingkaran dengan kilau lembut yang khas. Dipadukan dengan ikatan perak dalam desain artistik, elemen ini menghadirkan nuansa mewah yang tidak berlebihan, melainkan menyatu harmonis dengan kesederhanaan anyaman ketak. Di titik inilah, tradisi dan inovasi bertemu, menciptakan karya yang bukan hanya indah, tetapi juga bernilai tinggi. Menariknya, karya ini tidak hadir dalam ruang yang sunyi. Harmoni Tas Ketak Lombok turut diperkenalkan kepada publik dalam ajang Persit Bisa 2 yang digelar di Balai Kartini pada 7–9 Mei 2026. Momentum ini menjadi panggung strategis untuk memperluas jangkauan kriya lokal, sekaligus mempertegas bahwa produk berbasis budaya memiliki daya saing di tingkat nasional bahkan global. Lebih dari sekadar aksesori fesyen, tas ketak kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup. Ia tidak hanya melengkapi penampilan, tetapi juga merepresentasikan selera, nilai, dan kesadaran akan pentingnya menghargai karya lokal. Dengan pengerjaan yang mengutamakan ketelitian dan kualitas di setiap detail, produk ini layak menjadi koleksi pribadi, hadiah istimewa, hingga souvenir eksklusif yang berkelas. Melalui karya ini, Galeri Wira Bhakti 162 menyampaikan pesan yang kuat namun sederhana: bahwa warisan budaya tidak harus tinggal di masa lalu. Ia bisa hidup, berkembang, dan bahkan menjadi simbol masa depan—selama terus dirawat dengan kreativitas dan kecintaan. Pada akhirnya, Harmoni Tas Ketak Lombok bukan hanya tentang tas. Ia adalah cerita tentang tangan-tangan terampil yang bekerja dengan hati, tentang alam yang memberi tanpa henti, dan tentang harapan bahwa kriya Nusantara akan terus bersinar, menembus batas ruang dan waktu.