Kab. Bandung, - Di balik kabut insektisida yang menyelimuti Desa Dayeuhkolot pada 14-15 Juli 2025, terukir kisah tentang dedikasi seorang Babinsa, Sertu Eko Saryanto, dalam melindungi warganya dari ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD).
Lebih dari sekadar kegiatan rutin, fogging mandiri yang dihadiri oleh Camat Dayeuhkolot, Drs. Asep Suryadi M.K.P serta Kepala Desa Dayeuhkolot. Y.Setiana, A.Md., itu menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kebersihan lingkungan.
Mentari pagi itu menjadi saksi persiapan Sertu Eko bersama Bhabinkamtibmas dan timnya. Mesin fogging diperiksa, bahan bakar diisi, dan cairan insektisida disiapkan. Namun, lebih dari sekadar peralatan teknis, senyum ramah Sertu Eko menjadi modal utama dalam menjalankan tugasnya. Ia menyadari, kegiatan ini bukan hanya tentang menyemprot nyamuk, tetapi juga tentang mendekatkan diri dengan warga binaannya.
Dimulai dari RW 01 menjadi titik awal, dengan telaten Sertu Eko dan timnya menyemprotkan kabut insektisida ke setiap sudut rumah dan lingkungan sekitar. Aroma khas insektisida tak membuat warga mengernyit; justru sebaliknya, mereka menyambut dengan antusias. Bagi mereka, fogging adalah harapan, perlindungan dari ancaman DBD yang selalu menghantui di musim pancaroba.
Sertu Eko tak hanya menyemprot, Ia menyempatkan diri berinteraksi dengan warga, menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, bahaya menumpuk barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Edukasi ini menjadi kunci, karena pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran dan tindakan kolektif masyarakat.
Di RW 2 hingga RW 14, cerita serupa terulang. Sertu Eko tak lelah memberikan sosialisasi tentang gerakan 3M (Menguras, Menutup, Menimbun) – langkah sederhana namun efektif untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Ia menjelaskan dengan sabar, menjawab pertanyaan warga dengan ramah, bahkan memberikan contoh langsung bagaimana menguras bak mandi dengan benar. Anak-anak pun ikut antusias, mendengarkan penjelasan Sertu Eko dengan penuh perhatian, menunjukkan bahwa kesadaran akan kebersihan lingkungan harus ditanamkan sejak dini.
Lebih dari sekadar kesehatan fisik, kegiatan fogging ini juga berdampak positif pada kesehatan sosial. Sertu Eko memanfaatkan kesempatan ini untuk mempererat tali silaturahmi dengan warga. Ia berbincang, mendengarkan keluh kesah, dan berbagi informasi. Di tengah kesibukan menyemprot, terjalinlah interaksi yang hangat, membangun kemanunggalan TNI dan rakyat yang begitu solid.
Dua hari berlalu, kegiatan fogging selesai. Sertu Eko merasa lega dan puas. Ia melihat hasil kerja kerasnya, bukan hanya lingkungan yang lebih bersih dan terbebas dari nyamuk, tetapi juga rasa kebersamaan yang semakin erat antara TNI dan masyarakat Desa Dayeuhkolot. “Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan aman dan lancar,” ucapnya dengan senyum tulus.
Sertu Eko Saryanto adalah contoh nyata seorang Babinsa yang peduli dan dekat dengan rakyat. Ia bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga seorang edukator, motivator, dan perekat sosial.
Melalui kegiatan fogging mandiri ini, ia telah menebar benih kesadaran dan kebersamaan di tengah masyarakat Desa Dayeuhkolot, membangun benteng pertahanan yang kokoh melawan ancaman DBD. Kisah inspiratif ini membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan dan keamanan bangsa. (Pen)