Jl. Veteran, RT.3/RW.2, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110
+62-21-3848300
Beranda/ Informasi Publik/ Kodam III/Siliwangi
Kodam III/Siliwangi 19 October 2026

Gempita di SDN Panggang Jero! Serka Sudono Terjun Langsung ke Kelas, Hancurkan Budaya Bullying dengan 3 Pilar Emas: Sekolah, Orang Tua, dan Anak

Gempita di SDN Panggang Jero! Serka Sudono Terjun Langsung ke Kelas, Hancurkan Budaya Bullying dengan 3 Pilar Emas: Sekolah, Orang Tua, dan Anak
Indramayu, – Suasana kelas di SDN Panggang Jero, Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, mendadak hening namun penuh ketegangan positif pada Rabu pagi (14/10/2026). Tepat pukul 08.30 WIB, seorang sosok berseragam loreng TNI dengan tatapan tajam namun hangat berdiri di depan papan tulis. Ia adalah Serka Sudono, Babinsa Desa Tanjakan dari Koramil 1610/Krangkeng. Namun kali ini, ia tidak membawa senjata api atau alat tempur. Senjata utamanya adalah kata-kata tegas dan strategi jitu untuk memerangi musuh terbesar anak-anak zaman now: Bullying atau perundungan. Kehadiran Serka Sudono di sekolah dasar ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah operasi pencegahan dini yang strategis. Ia memahami bahwa kekerasan verbal maupun fisik di sekolah sering kali berawal dari ketidakpahaman anak tentang batas-batas interaksi sosial. Dengan metode yang interaktif dan mudah dicerna oleh siswa-siswi cilik, Serka Sudono membongkar mitos bahwa "diam adalah emas" saat menjadi korban. "Kalau dibully, jangan diam! Lapor guru BK atau orang tua segera. Pembully makin berani kalau korbannya takut," serunya lantang, disambut anggukan serius ratusan pasang mata kecil yang menatapnya. Serka Sudono tidak hanya berbicara kepada korban potensial, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi semua pihak. Ia menekankan pentingnya memiliki 1-2 teman dekat sebagai benteng pertahanan, serta membangun kepercayaan diri dengan postur tubuh tegak dan tatapan mata tegas untuk berkata, "Stop, jangan lakukan!". Pesan ini langsung dipraktikkan oleh para siswa dalam simulasi singkat, menciptakan suasana kelas yang empowering dan penuh semangat keberanian. Namun, perang melawan bullying tidak bisa dimenangkan oleh anak-anak saja. Serka Sudono secara khusus menyoroti peran vital Sekolah. Ia mendesak pihak sekolah untuk membuat aturan yang jelas dan tegas, bukan sekadar teguran lisan. "Buat poster 'Sekolah Anti Bullying' yang nyata. Sediakan kotak curhat anonim atau QR code agar anak yang takut bisa tetap melapor. Jangan biasakan kalimat 'namanya juga anak-anak, bercanda doang'. Itu racun!" tegasnya di hadapan para guru yang hadir. Ia juga mengingatkan pentingnya jam wali kelas yang aktif menanyakan perasaan siswa, bukan hanya absensi kehadiran. Pilar ketiga yang tak kalah penting adalah Orang Tua. Serka Sudono mengajak para orang tua untuk mengubah pola komunikasi di rumah. "Tanya perasaan anak, bukan cuma nilai rapor. Cek perubahan perilaku: jika anak tiba-tiba mogok sekolah, bekal utuh, atau murung, itu sinyal bahaya. Ajarkan empati sejak kecil, dan jangan pernah bilang 'jangan cengeng'. Itu akan membuat mereka memendam trauma," ujarnya dengan nada penuh kepedulian. Serka Sudono juga memberikan protokol darurat jika bullying sudah terjadi: tenangkan anak, kumpulkan bukti (chat, foto, kesaksian), dan laporkan secara berjenjang dari Wali Kelas hingga Dinas Pendidikan jika diperlukan. Langkah-langkah sistematis ini memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi warga sekolah. Kegiatan pemberian materi yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan dengan sangat tertib dan aman. Para siswa tampak lebih percaya diri, guru-guru lebih waspada, dan kesadaran kolektif terhadap bahaya bullying meningkat drastis. Dokumentasi yang tertangkap kamera menunjukkan momen haru ketika Serka Sudono berjabat tangan dengan para siswa, simbol janji bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan. Laporan ini disampaikan kepada Dandim 0616/Indramayu sebagai bukti nyata bahwa Koramil 1610/Krangkeng, melalui Serka Sudono, terus memperluas fungsi pembinaan teritorial ke ranah pendidikan karakter. Di tahun 2026 ini, tantangan keamanan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Melalui aksi heroik ini, SDN Panggang Jero telah menjadi benteng perlindungan bagi generasi muda. Serka Sudono telah membuktikan bahwa seragam TNI adalah simbol pelindung masa depan bangsa, memastikan setiap anak tumbuh dengan sehat, bahagia, dan bebas dari bayang-bayang ketakutan. (Pen)
Kembali ke Daftar