Transparansi Total di Rancahan! Kapten Inf Sudiyanto Kawal Lelang Tanah Bengkok dan Titi Sara, Hadirkan Keadilan Ekonomi yang Menggetarkan Hati Warga Gabus Wetan
Indramayu, – Bukan karena gempa bumi, melainkan karena tensi tinggi dari sebuah peristiwa ekonomi strategis yang menentukan nasib keuangan desa dan keadilan sosial bagi warganya. Tepat pukul 09.30 WIB, sebuah lelang sewa garap tanah kas desa, meliputi Tanah Bengkok dan Tanah Titi Sara, dilaksanakan secara terbuka dengan pengawasan ketat dari unsur Muspika di Aula Balai Desa Rancahan, Kecamatan Gabus Wetan, Kabupaten Indramayu, bergetar hebat pada Rabu (14/10/2026).
Di tengah sorotan mata ratusan warga, Kapten Inf Sudiyanto, Danramil 1617/Gabus Wetan, hadir sebagai penjaga integritas proses, memastikan tidak ada satu pun celah bagi praktik curang atau mafia tanah.
Kehadiran Kapten Inf Sudiyanto bersama anggotanya, bersanding dengan Kapolsek Gabus Wetan AKP Karnadi SH, Camat Gabus Wetan Bapak Nono Sugiono, serta Kuwu Desa Rancahan Ibu Titin dan perangkat desa, menciptakan atmosfer kewibawaan yang instan.
Ini bukan lelang biasa di mana pemenang ditentukan oleh kedekatan dengan penguasa. Ini adalah demonstrasi demokrasi ekonomi tingkat akar rumput. Hadir pula tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda Desa Rancahan, yang semuanya menjadi saksi hidup bahwa aset desa dikelola dengan transparansi mutlak.
"Tanah bengkok dan titi sara adalah amanah rakyat. Setiap rupiah hasil sewanya harus kembali untuk kesejahteraan desa. Kami pastikan proses ini bersih dari noda korupsi," tegas Kapten Sudiyanto dalam sambutannya yang membakar semangat keadilan.
Proses lelang berlangsung dramatis namun tertib. Para peserta lelang, yang merupakan petani lokal, mengajukan penawaran mereka dengan penuh harap. Untuk Tanah Bengkok seluas 36,6 Bahu, persaingan cukup ketat, namun akhirnya dimenangkan oleh Bapak Edi dengan nominal penawaran fantastis sebesar Rp13 juta per Bahu. Angka ini jauh di atas harga pasar sebelumnya, menunjukkan antusiasme petani yang percaya pada sistem baru yang adil. Sementara itu, untuk Tanah Titi Sara seluas 4 Bahu, kompetisi semakin memanas hingga dimenangkan oleh Ibu Hj Ruminah dengan nilai tawaran mencengangkan sebesar Rp19 juta per Bahu.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik finansial; mereka adalah bukti nyata bahwa ketika pengelolaan aset dilakukan secara terbuka dan dikawal oleh aparat yang berwibawa, nilai ekonomi akan meningkat drastis. Uang hasil lelang ini akan langsung masuk ke kas desa, digunakan untuk pembangunan infrastruktur, bantuan sosial, dan pemberdayaan masyarakat Rancahan. Ibu Titin, selaku Kuwu Desa, tampak lega dan bangga melihat respons positif warganya. "Ini adalah kemenangan bersama. Tidak ada lagi bisik-bisik miring tentang nepotisme. Semua jelas, semua tercatat," ujarnya dengan senyum puas.
Peran Kapten Inf Sudiyanto dan AKP Karnadi sangat krusial dalam menjaga kondusivitas acara. Mereka memastikan tidak ada intimidasi antar-peserta lelang, serta memvalidasi setiap dokumen persyaratan peserta sebelum masuk ruang lelang.
Sinergi TNI-Polri-Pemda ini menciptakan rasa aman psikologis bagi seluruh pihak. Warga merasa dilindungi hak-haknya, sementara pemerintah desa merasa didukung dalam menjalankan tugas beratnya.
Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan dengan sangat aman, lancar, dan kondusif. Tidak ada protes, tidak ada kerusuhan, hanya ada tepuk tangan meriah dari warga yang menyaksikan lahirnya era baru transparansi di Desa Rancahan. (Pen)