Harmoni Dalam Keberagaman: Cerita dari Desa Tempuran, Sang Duta Kodam IV/Diponegoro di Panggung Pancasila Nasional
TEMANGGUNG — Di balik rimbunnya lanskap Kecamatan Kaloran, suara gelak tawa dan hentakan langkah tari Warokan bergema hangat. Hari itu, Rabu (19/8/2026), Desa Tempuran tidak sekadar menyambut tamu penting, tetapi sedang menunjukkan sebuah cermin keharmonisan hidup kepada Indonesia. Desa di perbatasan Temanggung ini resmi dinilai oleh Tim Pengawasan dan Evaluasi Staf Teritorial Angkatan Darat (Wasev Sterad) sebagai wakil tunggal Kodam IV/Diponegoro dalam Lomba Kampung Pancasila Tingkat Nasional TA 2026.
Kedatangan Ketua Tim Wasev Sterad, Letkol Inf Hasan Dasuki, S.Sos., M.I.P., bersama rombongan disambut hangat oleh Dandim 0706/Temanggung Letkol Inf Richie Fadly, S.Sos., Bupati Temanggung Agus Setiawan, S.E., serta jajaran Forkopimda, Forkopincam, Pemdes Tempuran, Toga, Todat dan Tomas. Pengalungan bunga serta tarian adat menjadi pembuka nuansa kekeluargaan yang begitu kental.
Bukan sekadar formalitas penilaian, kebhinekaan di Tempuran terasa nyata dan alami. Dalam peninjauannya, rombongan Tim Wasev diajak menelusuri sudut-sudut desa, mulai dari Vihara Bodhi Dharma Loka, sentra UMKM warga, hingga aksi flashmob tari Warokan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Satu momen paling berkesan terjadi saat tim menjenguk Bapak Sareh Rahmadi, seorang warga yang sedang sakit menahun. Di dalam rumah sederhana tersebut, anggota keluarga hidup rukun dan saling mengasihi meski memeluk keyakinan yang berbeda-beda.
"Baru beberapa detik keluar dari kendaraan, nuansa toleransi itu sudah langsung terasa dari mata kami melirik. Ada yang memakai blangkon, peci, hingga busana adatnya masing-masing. Ini menunjukkan toleransi yang sudah fundamental dan menjadi kebiasaan," puji Letkol Inf Hasan Dasuki.
Dandim 0706/Temanggung, Letkol Inf Richie Fadly, menyoroti bahwa Desa Tempuran memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi gotong royong dan kepedulian antar sesama.
"Kampung Pancasila hakikatnya bukan sekadar perlombaan mengejar predikat terbaik, melainkan upaya menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakatnya rukun, kompak, toleran, dan cinta tanah air, maka ketahanan wilayah kita akan semakin kokoh," tegas Dandim.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Temanggung Agus Setiawan mengapresiasi sinergi tiga pilar (TNI, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat) yang berhasil merawat kerukunan di wilayah perbatasan. Menurutnya, keberagaman di Desa Tempuran adalah modal utama pembangunan daerah, bukan alasan untuk terpecah belah.
Kepala Desa Tempuran, Priyanto, menceritakan bahwa secara historis Desa Tempuran sudah menjadi tempat perlindungan para pejuang sejak masa pra-kemerdekaan. Nilai toleransi dan tradisi seperti sedekah bumi tahunan serta gotong royong mingguan telah diwariskan secara turun-temurun.
Kebanggaan mendalam turut dirasakan warga, seperti yang diungkapkan Ana Surahman, salah satu tokoh umat Buddha setempat.
"Kami kaget sekaligus sangat bangga Desa Tempuran bisa mewakili Kodam IV/Diponegoro ke tingkat nasional. Tentu kami berharap menang, namun yang paling penting adalah nilai Pancasila ini semakin kuat. Kerukunan adalah dasar dari kedamaian, dan dari kedamaian itulah kesejahteraan ekonomi warga ikut meningkat," ungkapnya penuh harap.
Penilaian offline ini ditutup dengan doa bersama agar semangat kebhinekaan yang memancar dari Desa Tempuran dapat menjadi pemicu (trigger) inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Hasil akhir Lomba Kampung Pancasila Tingkat Nasional ini rencananya akan diumumkan pada Oktober 2026 mendatang.